Fathurahman, Mendulang Untung dari Bisnis Kuliner Terapung

Menikmati santap malam sambil menyusuri Sungai Kapuas menjadi incaran turis asal Malaysia dan Brunei. Inilah yang menjadi ladang bisnis Fathurahman, pemilik kafe Banjar Serasan di Kota Pontianak.

“Bisa dibilang 40 persen tamu kafe ini adalah turis dari Malaysia dan Brunei. Sisanya berasal dari dalam negeri dan beberapa turis asing asal negara lain,” ujar Fathurahman.

Diakui Fathur, dia memang menjalin kerjasama hampir dengan semua travel agent yang ada di Pontianak.

Makan sambil berpesiar dengan kapal Banjar Serasan sudah menjadi bagian dari city tour yang dikemas biro perjalanan di Pontianak. Tak hanya disuguhi menu khas seperti ayam api serasan, tumis pukis maupun asam pedas ikan serangin yang bercita rasa khas Melayu dengan beragam bumbu, para tamu juga mendapat suguhan panorama yang eksotik.

Saat sore menjelang petang saat matahari menuju peraduan, panorama sunset terlihat sangat menakjubkan. Semburat warna jingga di langit biru serta kecipak ombak kecil dengan balutan angin sepoi-sepoi menjadi daya tarik bagi tamu. Sedang saat malam menjemput siang pemandangan lampu-lampu di kota membuat suasana romantis di dalam perahu.

Fathurahman memberikan pilihan dua trip bagi para tamunya. Jika siang hari kapal Banjar Serasan akan berangkat dari Serasan menuju Alun Kapuas hingga Tugu Khatulistiwa dan kembali lagi dengan durasi sekitar 1,5 jam. Sedang saat malam dari Serasan sampai Alun Kapus kembali ke Serasan butuh waktu sekitar 40 menit. “Namun jika hujan dan berangin saya tidak izinkan kapal berjalan mengangkut tamu,” papar dia.

Dia mematok tarif sebesar Rp 400 ribu sekali trip. Saat ini kapal yang dia miliki bisa menampung 25 orang. Namun dia sudah menyiapkan satu kapal lagi yang mampu menampung 60 orang. Fathur memang membuat sendiri kapal-kapal yang dijadikan kafe. Jika pada kapal yang pertama menggunakan mesin Isuzu Panther. Sedang, pada kapal kedua dia pasang mesin Mitsubhisi PS 120.
Saat mengawali usaha tahun 2001, Fathur hanya menggunakan keramba terapung dengan tenda-tenda dari sponsor. Para pembeli lesehan di atas keramba. Kafe perahu mulai dirintis 2006. Itu setelah dia membangun kafe permanen di tepi sungai Kapuas tepatnya di dekat dermaga Serasan.

“Masakan tidak dibuat di kapal namun di dapur resto permanen. Jadi setelah menu yang dipesan para tamu disajikan, baru kapal berlayar,” ujar Fathur. Pada setiap trip ada dua pelayan, juru kemudi dan seorang ABK. Namun, menurut Fathur, jumlah petugas disesuaikan dengan jumlah tamu terutama untuk memberikan pelayanan yang baik kepada para tamu.

Saat ini kafe yang memberikan layanan berlayar menyusuri Kapuas memang baru yang dikelola Fathur. Untuk itu dia optimistus usahanya masih akan berkembang. “Saya optimis dengan wisata kuliner sambil berlayar ini,” ujar Fathur. Hanya saja dia berharap dukungan infrastuktur berupa dermaga dari Pemerintah Kota. Terutama agar turis bisa turun mengunjungi Tugu Khatulistiwa.

Fatoni, Menggurita dengan Jamur Kriuk

Pernah melihat gerobak kecil mengkal di suatu sudut dengan tulisan Jamur Kriuk? Cukup dengan Rp 5000 saja Anda sudah dapat sekantung jamur kriuk Jakri, dengan aneka pilihan rasa. Sepintas tampilan cemilan yang digemari ABG ini mirip dengan ayam goreng tepung alias fried chicken. Bukan, jamur kriuk ini terbuat dari jamur merang yang digoreng garing dengan tepung, lalu diberi tambahan rasa sesuai selera.  Gerobak itu tidak hanya satu, melainkan lebih dari 200-an tersebar di seantero Indonesia. Mereka adalah bisnis waralaba yang dirintis oleh Fatoni, dari Purwokerto, Jawa Tengah. Pria yang akrab disapa Toni ini memulai semuanya dengan modal Rp 3 juta saja, dan siapa nyana dalam tempo 2,5 tahun ia sukses meraih 205 mitra. Usaha yang berbendera CV Manggala Karya Abadi ini meraih profit dari royalty fee, serta penjualan bahan baku.

Ide membuat snack jamur kriuk datang dari istri, Lita Desita, yang mencoba meramu gorengan jamur. Ternyata rasanya renyah, kriuk, dan gurih. Terbersit untuk berjualan sendiri dengan gerobak. Naik turun penjualan tak membuat alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu gentar. Setelah dagangan snack ini cukup laris manis, ia mulai berpikir untuk mewaralabakannya. Dengan gigih ia mengetuk hati para investor. Berkat perjuangan yang cukup keras, dalam 2,5 tahun Toni berhasil mendapatkan 205 waralaba, di mana 28 adalah pemilik master franchise.

Wow, luar biasa bukan? Tak mudah menyerah, pada pertengahan 2011 silam ia membuka waralaba baru, Pasta Jakri, yakni pasta yang dikombinasikan dengan ragam jamur kriuk hasil kreativitasnya. Kendati belum berhasil membuka waralaba, Pasta Jakri sudah dapat mengeruk omzet Rp. 1,5 juta sehari. Toni mengaku terus memikirkan inovasi lain untuk usahanya yang berbasis bahan jamur merang ini.

Berminat menjadi waralaba Jamur Kriuk milik Toni? Untuk pemegang waralaba atau franchise bisa merogoh kocek Rp 6,8 juta untuk investasi. Sementara untuk master franchise harus menyiapkan modal setidaknya Rp 30 juta. Semuanya mendapatkan fasilias training pengolahan jamur kriuk, agar sesuai dengan standar. Training ini diadakan sampai si karyawan yang dikirim oleh mitra bisa membuat jamur kriuk sesuai harapan, yakni yang lezat, renyah, dan gurih.

Jika cukup aktif berpromosi, didukung lokasi penjualan yang strategis, 1 gerai gerobak Jamur Kriuk dapat mendulang omzet Rp 300.00-500.000 per hari. “Dengan bisnis franchise kami dapat membantu orang lain, membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi yang ingin usaha tapi belum memiliki ide bisnis,” ujar Toni dalam blognya yang memang dikhususkan untuk mempromosikan bisnisnya.

Agaknya harapan Toni membantu orang lain tidak berlebihan, sebab terbukti gerobak Jamur Kriuk-nya sudah tersebar di Jakarta, Depok, Yogya, Bandung, Semarang, Bogor, Serang, Banten, Tangerang, bahkan Pekanbaru.

Warles Sari Gunkid, Warung Lesehan Online Ala Buruh Migran Indonesia

Memulai sebuah bisnis tidak perlu harus bermodal banyak dan dilakukan saat memiliki banyak waktu. Di saat seseorang masih bekerja sebagai karyawan dan hanya memiliki modal dalam jumlah terbatas pun, sebuah bisnis sudah bisa dirintis. Asal ada tekad dan kemauan yang kuat untuk melakukannya. Inilah yang diperlihatkan oleh seorang buruh migran Indonesia di tanah asing.

Sebagai seorang lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sarjiyem yang kini bekerja di Victoria Hong Kong terpikir untuk bekerja di luar negeri sejak dulu. “Saya pikir kerja di luar gajinya lebih besar dibandingkan bekerja di dalam negeri,” ujar Sarjiyem yang lebih dikenal sebagai “Sari Gunkid” di jejaring sosial Facebook.

Ia memilih bekerja di luar negeri sebagai asisten rumah tangga karena ongkos pemberangkatannya lebih rendah dibandingkan biaya yang dibutuhkan untuk bekerja dalam sektor formal di sana.

“Di Hong Kong, pekerjaan formal diperuntukkan hanya bagi warga Hong Kong dan penduduk yang sudah memiliki identitas independen,” terangnya.

Selama menjadi asisten rumah tangga di negeri orang, Sarjiyem juga mengakui ada suka duka tersendiri. “Di sini enaknya bisa libur seminggu sekali dan ada juga labor holiday. Kami bebas berorganisasi,mengembangkan bakat, ketrampilan, pendidikan, dan sebagainya,” ia menjelaskan. Selain itu, gajinya lebih tinggi dibandingkan pekerja migran yang bekerja di Malaysia dan Singapura dan ia berkesempatan mempelajari cara hidup orang Hong Kong yang bersih, bisa antri dengan rapi, disiplin waktu, kerja keras, cepat. “ Selain bekerja juga bisa berwisata layaknya seorang turis,” imbuh wanita kelahiran Yogyakarta tersebut saat dihubungi CiputraEntrepreneurship.com.

Meski demikian, Sari mengakui ada beberapa hal yang kurang menyenangkan dalam kesehariannya sebagai pekerja asing di Hong Kong. “Potongan gaji di awal masa kerja lumayan besar,” keluhnya. Biasanya seorang buruh migran mengalami pemotongan gaji selama 5 hingga 7 bulan dengan nilai HK$3000 per bulan. “Padahal gaji untuk saat ini HK$3740,” ia menambahkan. Sebagai pekerja, ia juga kadang harus bekerja hampir 24 jam setiap hari.

Suatu saat ia mendapatkan  informasi adanya pelatihan ini lewat Facebook. “Saat itu sudah ada 1 kali pertemuan,” kenang wanita kelahiran 34 tahun lalu ini. “Saya termotivasi dari dalam diri sendiri untuk ikut, apalagi pelatihannya gratis,” imbuhnya.

Sebelum mengikuti pelatihan, Sari sempat berpikir jika ia tidak bisa melakukan kegiatan liburan lainnya nanti. “Tapi setelah 1 kali mengikuti pelatihan, akhirnya menjadi ketagihan untuk mengikuti pelatihan terus sampai sekarang,” ujarnya.

Ditanya mengenai hasrat untuk berwirausaha, Sari mengakui dirinya tergugah untuk belajar menjadi entrepreneur setelah mengikuti pelatihan “Mandiri Sahabatku” yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri bekerja sama dengan UCEC.

Di tengah proses belajar berwirausaha itulah, Sari ingin mempraktikkan apa yang ia pelajari selama di kelas. “Saya mempunyai ide bisnis ini sebenarnya karena tugas ritel online dari Distance Learning dengan Universitas Ciputra Surabaya yang saya ikuti,” paparnya.

Mulanya ia merasa bingung mengenai jenis bisnis ritel online yang bisa terasa manfaatnya dalam 3 minggu. Dulu ada salah satu temannya menawarkan pada Sariuntuk menjadi supplier pakaian anak-anak yang akan dijual di Indonesia, tapi ia menimbang, tawaran itu tidak akan terasa manfaatnya dalam 3 minggu. “Pasti prosesnya lebih lama,”  ia beralasan.

Ide pun datang saat ia bersantap di warung lesehan yang menunya halal. “Akhirnya saya telepon pemiliknya dan menyampaikan keinginan saya untuk menjual menu makanan dan minuman yang ada di warung tersebut,” Sari mengisahkan. Pemiliknya setuju, maka terciptalah bootstrap. Sari pun mendirikan warles (warung lesehan) online tanpa harus capek masak, mengurus segala hal dari belanja, produksi, dan sebagainya. Ia berujar tentang keunggulan bisnisnya, “Cukup mencari pelanggan dan proses pengambilan pesanan serta pengantaran pesanan.”

Sari menerapkan siasat jitu agar tetap bisa bekerja sambil berbisnis. “Warles online ini  pelayanannya hanya hari Minggu atau libur saja dan berdasarkan orderan, jadi tidak terlalu mengganggu pekerjaan sebagai domestic helper. Untuk pengaturannya pada hari Minggu/libur, saya tinggal mengambil orderan lalu mengantar orderan ke tempat pelanggan,” katanya mengungkap pembagian waktu bekerja sambil berbisnis.

Ia hanya menggunakan peralatan sederhana dalam berbisnis, hanya tas untuk mengambil dan mengantar pesanan bisa menggunakan tas yang tidak terpakai, termos, sendok, garpu. Mengenai modalnya, ia hanya untuk promosi dan produk tambahan saja. “Nominalnya tidak terlalu besar bahkan boleh dibilang sangat kecil,” terangnya.
Sari memanfaatkan Internet sebagai sarana untuk menjaring pelanggan. Ia menggunakan YouTube sebagai sarana berpromosi dengan mengunggah sejumlah video tentang bisnis onlinenya itu dan testimoni dari pelanggan-pelanggan makanan lesehannya yang lezat dan cocok di lidah serta dijamin halal. Warung Lesehan ( WarLes ) Sari Gunkid menjadi warles online yang menyediakan menu halal, bersih, fresh dan layanan delivery service yang cepat, demikian ia berpromosi di jejaring sosial. Untuk mendukung bisnisnya dan menerima pesanan, ia menggunakan formulir pemesanan online di blognya: http://www.warlessarigunkid.blogspot.com.
Kreativitasnya patut diacungi jempol. Dan keberaniannya untuk memulai menjadi pemicu untuk terus bergerak menuju arah yang lebih baik.

Untuk masa depan para pekerja migran secara umum, Sari mengharapkan adanya perlindungan terhadap BMI, pembebasan/pengurangan biaya penempatan di luar negeri, penghapusan KTKLN yang sebenarnya hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang secara tidak langsung memeras BMI. Panduan/perhatian dari pemerintah setelah menjadi BMI purna untuk berwirausaha di Indonesia.

Cetak Omzet Puluhan Juta dari Mi Ayam

Bisnis makanan memang tak pernah surut. Salah satunya ialah bisnis mi ayam. Meski banyak pemain, toh bisnis ini tetap menjanjikan. Hal tersebut membuat Teguh Mardianto mantap mengeluti usaha yang telah dirintis oleh ibunya sejak tahun 1993 di daerah Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Untuk memajukan bisnis mi ayamnya, Teguh menelurkan banyak ide dan inovasi. Hasilnya, usaha yang dikelolanya sangat maju dengan banyaknya pelanggan yang menggemari mi ayam racikannya.

“Dulu awalnya usaha mi ayam saja, tapi kami terus melakukan inovasi dan memberikan menu tambahan baru seperti milk shake and juice,” ujar Teguh saat dihubungi Ciputraentrepreneuship.com.

Strategi pemasaran yang diterapkan Teguh sangat efektif. Teguh melakukan promosi baik secara langsung maupun visual dengan menekankan nama “Mi Galak.” “Mi Galak artinya adalah Mi Ga Akan Lama Lagi Kaya,” papar Teguh.

Dengan strategi tersebut, Teguh mampu menjangkau semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. “Dari kalangan anak muda, baik SMP, SMA, maupun mahasiswa. Banyak juga dari kalangan orang tua,” katanya.

Omzet yang diraih Teguh sangat besar. Menurutnya, per bulannya bisa mencapai Rp20 juta.

Hendra Arifin, Sosok di Balik Kesuksesan Hoka-Hoka Bento

Keputusannya untuk meninggalkan kenyamanan setelah 13 tahun bekerja di PT Astra Internasional ditentang oleh banyak keluarga dekatnya. Termasuk rekan-rekannya di Astra juga ikut menyayangkan keputusannya tersebut. Namun ia bergeming.

Ia berani memutuskan untuk memulai merintis bisnis kuliner di tahun 1985. Dan sekarang setelah melewati perjalanan panjang, Hendra Arifin berhasil mengepakan sayap dengan merek dagang Hoka-Hoka Bento. Ya, kini pria sekaligus Direktur Utama PT Eka Bogainti itu memiliki 148 gerai Japanese fast food restaurant, Hoka Hoka Bento.

Awalnya, Hoka Hoka Bento merupakan bisnis makanan dengan konsep take away yang kemudian diubah menjadi cepat saji (fast food), model bisnis yang mengadopsi tren cara menikmati makanan dengan lebih praktis dan higienis ala Jepang.

Dari sebuah gerai mungil di Wilayah Kebon Kacang Raya, Jakarta, Hendra mulai membangun bisnis resto Hoka Hoka Bento. Untuk mengembangkan bisnis yang digelutinya, dia pun menyambangi negeri Sakura untuk mempelajari dan membeli izin penggunaan merek dan technical assistance Hoka Hoka Bento di Indonesia.

Alur perjalanan hidup pria berdarah Betawi ini, memang seperti air yang mengalir. “Semua tidak ada yang kebetulan, semua karena rancangan Tuhan,” ungkapnya. Hendra akrab disapa memandang bila riak adalah romantisme dan dinamika hidup. “Yang harus dilakukan adalah menghadapinya dengan keikhlasan, kejujuran dan mau memberi maaf,” tuturnya memaknai sukses yang telah diraih.

Sikap ikhlas dan fokus dalam bekerja guna mewujudkan tujuan hidup memang telah dilakukannya. Dalam menjalankan bisnis, kata Hendra, persoalan dan kendala adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. “Kita harus ikhlas dan berusaha untuk bangkit kembali,” ujarnya memberi kiat menjalani sebuah proses yang telah direncanakan oleh Tuhan.

Dia menilai bahwa sebuah kegagalan merupakan pelajaran yang berharga. “Kita petik pelajaran dari kegagalan, lalu kembali bangkit untuk tidak mengulang kesalahan yang sama,” ujarnya. Sikap ini akan memperkuat diri kita untuk melangkah ke level yang lebih tinggi dengan tetap fokus bekerja dengan sikap tulus dalam menjalaninya.

Menurut dia, sikap fokus pada bidang pekerjaan yang digeluti menjadi salah satu kunci keberhasilan yang maksimal. Ia mencontohkan, banyak orang di tengah bisnis yang dilakukannya kemudian justru menggeluti bidang usaha yang lain, “Langkah ini jelas akan memecah fokus pada pekerjaan dan menimbulkan banyak persoalan,” katanya.

Selain keikhlasan dan fokus bekerja, nilai hidup yang patut dimiliki seorang entrepreneur adalah kejujuran. Hendra menjelaskan bahwa kejujuran menjadi modal yang penting dalam menjalani hidup termasuk dalam membangun bisnisnya. “Sikap shiddiq (tepercaya) sangat penting. Tanpa sikap shiddiq, lalu bagaimana kita memperoleh amanah?,” ujarnya.

Begitu pun dengan sikap pemaaf, Hendra menilai tak sedikit orang yang sulit memaafkan sebuah kesalahan meskipun telah berlalu. “Butuh sebuah keberanian dan kebesaran hati untuk meminta dan menerima maaf,” ujarnya.

Dia menilai dengan memiliki sikap pemaaf, kita akan lebih bersih dan jernih dalam berpikir. “Pikiran negatif hanya akan mengusik konsentrasi kita untuk bergerak maju. Ini jelas sangat tidak menguntungkan,” ujarnya. Karena itu cobalah untuk melupakan dan tetap melangkah ke depan. “Seperti ungkapan merunduk tapi tidak patah,” ujarnya berprinsip.

Donny Pramono, Sosok di Balik Kesuksesan Sour Sally

Yoghurt adalah jenis makanan yang populer di kota-kota besar. Makanan yang berasal dari susu fermentasi ini begitu menjamur di mana-mana. Tak pelak banyak orang melirik bisnis yoghurt yang menawarkan kesegaran rasa.

Adalah Donny Pramono yang sukses membesut bisnis yoghurt di bawah bendera Sour Sally. Ia berhasil mengembangkan yoghurt dalam bentuk beku sebagai hasil kreasi dari susu, yoghurt dan es krim formulasi. Sour Sally pun akhirnya bisa menular hingga Singapura.

Awalnya Donny membesut bisnis yoghurt dari ide ibunya sendiri, Elien Limuwa. Sang ibu ternyata suka makan yoghurt. Bahkan ibunya pun menyarankan untuk menjualnya dalam bentuk es krim. Berangkat dari situlah maka Donny memberanikan diri memulai bisnis es krim yoghurt tersebut.

Bermodal sebesar Rp 200 juta ia mendirikan outlet pertama di Senayan City, Jakarta. Perlahan yoghurtnya pun bisa diterima oleh masyarakat dengan berbagai topping dan citarasa yang menarik di dalamnya. Dari satu outlet kemudian berkembang menjadi 28 outlet di seluruh Indonesia termasuk Singapura.

Sebagai pelopor bisnis es krim yoghurt, Donny jelas tidak terbendung. Sebab branding yang dibuat Donny cukup berhasil. Jadi apabila konsumen ingin es krim yoghurt maka pastilah ia akan teringat Sour Sally.

Apa sebenarnya di balik kesuksesan terrsebut? Donny mengakui ia sangat memperhatikan branding. Ia pun menciptakan karakter Sally sebagai gadis periang dengan kepang dua, dress mini dan berwarna hitam. Karakter Sally yang ceria, cerewet, lucu, cerdas, ramah, loveable, kekanak-kanakan dan unik itu akhirnya diterima secara luas oleh konsumen

Anak pasangan Suwitno Pramono dan Elien Limuwa mengaku sejak kuliah sudah mengenal yoghurt. Bahkan saat dia kuliah di Los Angeles, dirinya terobsesi membangun gerai froyo alias es krim yoghurt karena melihat gerai tersebut sangat ramai di Amerika.

Dari sanalah ia bertekad untuk membangun bisnis yoghurt. Kini Donny tinggal memetik buah kesuksesannya. Sebagai usahawan sukses, penggemar futsal ini sedikit berbagi tips berwirausaha. Kuncinya tiga: ide, believe (percaya), dan passion (semangat). Tapi yang jelas dukungan orang tua sangat memegang peran penting bagi keberhasilan bisnis tersebut.

Mengintip Kesuksesan Getuk Goreng H Tohirin

Getuk makanan olahan dari ketela itu memang memiliki cita rasa yang khas. Sebagai kudapan yang biasa disajikan bersama teh atau kopi itu juga sering menjadi oleh-oleh di kala habis bepergian ke luar kota terutama di daerah Jawa Tengah.

Tapi siapa sangka jika getuk yang merupakan makanan sederhana itu bisa menjadi bisnis warisan Keluarga H Tohirin bahkan sampai 10 dasawarsa terakhir ini? Yap itulah kenyataan yang terjadi pada bisnis getuk goreng asli H Tohirin yang berada di Sokaraja, Purwokerto, Jawa Tengah.

Toko yang menjual getuk itu sudah dimulai pada 1918 silam. Praktis usia bisnis getuk itu sudah mencapai 94 tahun atau hampir mencapai 100 tahun. Bagaimana sih awal mulanya?

Begini ceritanya. Dulu pencipta getuk goreng ini adalah Mbah Sarpingad yang sudah almarhum. Ia bersama istrinya Sayem, adalah pedagang warung nasi biasa berdinding anyaman bambu. Nah selain menjual nasi dan lauk pauk, ia juga menjual penganan khas Jawa yaitu getuk basah.

Sayangnya getuk singkong itu tawar jadi tidak terlalu laku. Suatu ketika Mbah Sarpingad ini berpikir keras, bagaimana caranya agar getuk itu masih bisa diolah daripada dibuang begitu saja. Ia pun memiliki ide untuk menggoreng saja getuk tersebut dengan menambahkan gula kelapa.

Hasilnya? Luar biasa enak. Rasanya pas dengan lidah konsumen yang biasa datang ke warung nasi Mbah Sarpingad tersebut. Darisitulah mulai promosi secara getuk tular dan membuat makanan olahan getuk goreng itu lantas terkenal ke pelanggan lainnnya. Mbah Sarpingad pun menamakannya dengan nama Getuk Kamal. Alasannya karena getuk goreng itu dijual di bawah pohon kamal atau asem.

Nah, usaha getuk goreng ini pun  terus berlanjut ke menantu laki-lakinya Tohirin setelah simbah meninggal dunia. Di tangan Tohirin inilah getuk goreng dipoles dengan lebih cantik di tahun 1967. Ia pun memutuskan untuk berbisnis getuk saja dan mulai meninggalkan bisnis warung nasi.

Pilihan itu pun tepat. Buktinya getuk gorengnya pun semakin terkenal. Bahkan mulai menjadi oleh-oleh setiap pelancong saat berkunjung ke Purwokerto. Perlahan warung getuk goreng yang sederhana itu berubah menjadi bangunan permanen layaknya tempat menjual jajanan oleh-oleh khas Purwokerto. Tohirin pun akhirnya naik haji.

Usaha Tohirin dalam memajukan getuk goreng patut diacungi jempol. Tak hanya mempatenkan cita rasa getuk goreng khas miliknya itu, ia bahkan menambahkan kata “Asli” di depan nama getung goreng tersebut. Sebab ia sadar bahwa saingan pun mulai banyak bermunculan di wilayah Sokaraja. Dengan menambahkan kata tersebut maka getuk gorengnya bisa bersaing secara sehat.

Pada 1990-an, Tohirin menyerahkan tongkat estafet pengelolaan usaha getuk goreng kepada ketiga anaknya: Hj. Ning Waryati, Slamet Lukito dan Hj. Warsuti. Di tangan ketiga anaknya inilah, bisnis getuk goreng tumbuh makin pesat. Pada masa ketiga anaknya inilah getuk goreng ini dipatenkan dengan nama Getuk Goreng Asli H. Tohirin. “Sejak 1997 kami sudah memiliki paten,” ujar Ning Waryati, anak sulung Tohirin yang kini berusia 55 tahun.

Di masa kepemimpinan Tohirin, jumlah toko hanya tiga. Adapun di bawah pengelolaan anak-anaknya hingga pertengahan 2010, jumlah gerai getuk goreng Asli H. Tohirin mencapai 10. Sembilan di Sokaraja dan yang satu lagi di Buntu, Banyumas. Tidak tertutup kemungkinan gerainya akan terus berkembang. “Kami membuka outlet berdasarkan kebutuhan pasar,” ujar Slamet Lukito, anak kedua H. Tohirin.

Menurut Isnaini Nurkhumayah, putri kedua Ning Waryati sekaligus pemilik toko Asli I, untuk sukses dalam usaha ini ia dan keluarganya sangat menjaga kualitas produk. Untuk meningkatkan kepercayaan dan keyakinan pelanggan, proses produksi getuk goreng yang dilakukan secara tradisional bisa mereka saksikan.

Proses produksi itu dilakukan di ruangan khusus di bagian belakang toko. Di tempat inilah, setiap hari puluhan karyawan — semua laki-laki — sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang mengukus singkong, ada yang menumbuk di lumpang dengan alu-alu yang panjang, dan ada juga yang menggoreng. Begitu getuk jadi, langsung dibawa ke toko depan untuk dijual langsung ke konsumen. “Pekerjaan di sini butuh tenaga yang kuat, jadi pada umumnya dikerjakan lelaki,” ujar Isnaini.

Satu hal yang menarik, meski permintaan pasar cukup tinggi, pemilik Toko Tohirin tetap mempertahankan proses produksi yang tradisional. Contohnya, untuk mengukus mereka masih menggunakan dandang dan tungku berbahan bakar kayu. Lalu, untuk membuat adonan getuk mereka masih menggunakan cara ditumbuk.

Kemasan pun juga terkesan tradisional menggunakan besek yang ukurannya disesuaikan dengan berat getuk gorengnya. Di dalam ruangan memang ada alat penggiling bertenaga diesel, tetapi hanya digunakan untuk memecah ketela — tidak sampai melembutkan. “Mesin penggiling ini pun hanya digunakan bila permintaan banyak, sehari sampai lima kuintal lebih,” kata Isnaini.

Proses produksi getuk goreng yang dijalankan keluarga ini sebenarnya sederhana. Ketela yang sudah dikupas dikukus sampai matang, lalu ditumbuk. Setelah halus baru dicampur dengan gula kelapa asli. Maklum, di pasaran banyak beredar gula kelapa tak lagi asli karena dicampur dengan bahan lain untuk menambah berat. S

Sebelum dicampur dengan adonan getuk, gula harus direbus untuk menjadikannya seperti pasta. Nah, untuk merebus gula ada takarannya juga. Untuk 20 kg gula hanya digunakan satu gelas air. “Gulanya kami datangkan dari produsennya langsung dan kami sudah terikat perjanjian,” ujar Isnaini lagi.