Fathurahman, Mendulang Untung dari Bisnis Kuliner Terapung

Menikmati santap malam sambil menyusuri Sungai Kapuas menjadi incaran turis asal Malaysia dan Brunei. Inilah yang menjadi ladang bisnis Fathurahman, pemilik kafe Banjar Serasan di Kota Pontianak.

“Bisa dibilang 40 persen tamu kafe ini adalah turis dari Malaysia dan Brunei. Sisanya berasal dari dalam negeri dan beberapa turis asing asal negara lain,” ujar Fathurahman.

Diakui Fathur, dia memang menjalin kerjasama hampir dengan semua travel agent yang ada di Pontianak.

Makan sambil berpesiar dengan kapal Banjar Serasan sudah menjadi bagian dari city tour yang dikemas biro perjalanan di Pontianak. Tak hanya disuguhi menu khas seperti ayam api serasan, tumis pukis maupun asam pedas ikan serangin yang bercita rasa khas Melayu dengan beragam bumbu, para tamu juga mendapat suguhan panorama yang eksotik.

Saat sore menjelang petang saat matahari menuju peraduan, panorama sunset terlihat sangat menakjubkan. Semburat warna jingga di langit biru serta kecipak ombak kecil dengan balutan angin sepoi-sepoi menjadi daya tarik bagi tamu. Sedang saat malam menjemput siang pemandangan lampu-lampu di kota membuat suasana romantis di dalam perahu.

Fathurahman memberikan pilihan dua trip bagi para tamunya. Jika siang hari kapal Banjar Serasan akan berangkat dari Serasan menuju Alun Kapuas hingga Tugu Khatulistiwa dan kembali lagi dengan durasi sekitar 1,5 jam. Sedang saat malam dari Serasan sampai Alun Kapus kembali ke Serasan butuh waktu sekitar 40 menit. “Namun jika hujan dan berangin saya tidak izinkan kapal berjalan mengangkut tamu,” papar dia.

Dia mematok tarif sebesar Rp 400 ribu sekali trip. Saat ini kapal yang dia miliki bisa menampung 25 orang. Namun dia sudah menyiapkan satu kapal lagi yang mampu menampung 60 orang. Fathur memang membuat sendiri kapal-kapal yang dijadikan kafe. Jika pada kapal yang pertama menggunakan mesin Isuzu Panther. Sedang, pada kapal kedua dia pasang mesin Mitsubhisi PS 120.
Saat mengawali usaha tahun 2001, Fathur hanya menggunakan keramba terapung dengan tenda-tenda dari sponsor. Para pembeli lesehan di atas keramba. Kafe perahu mulai dirintis 2006. Itu setelah dia membangun kafe permanen di tepi sungai Kapuas tepatnya di dekat dermaga Serasan.

“Masakan tidak dibuat di kapal namun di dapur resto permanen. Jadi setelah menu yang dipesan para tamu disajikan, baru kapal berlayar,” ujar Fathur. Pada setiap trip ada dua pelayan, juru kemudi dan seorang ABK. Namun, menurut Fathur, jumlah petugas disesuaikan dengan jumlah tamu terutama untuk memberikan pelayanan yang baik kepada para tamu.

Saat ini kafe yang memberikan layanan berlayar menyusuri Kapuas memang baru yang dikelola Fathur. Untuk itu dia optimistus usahanya masih akan berkembang. “Saya optimis dengan wisata kuliner sambil berlayar ini,” ujar Fathur. Hanya saja dia berharap dukungan infrastuktur berupa dermaga dari Pemerintah Kota. Terutama agar turis bisa turun mengunjungi Tugu Khatulistiwa.

Fatoni, Menggurita dengan Jamur Kriuk

Pernah melihat gerobak kecil mengkal di suatu sudut dengan tulisan Jamur Kriuk? Cukup dengan Rp 5000 saja Anda sudah dapat sekantung jamur kriuk Jakri, dengan aneka pilihan rasa. Sepintas tampilan cemilan yang digemari ABG ini mirip dengan ayam goreng tepung alias fried chicken. Bukan, jamur kriuk ini terbuat dari jamur merang yang digoreng garing dengan tepung, lalu diberi tambahan rasa sesuai selera.  Gerobak itu tidak hanya satu, melainkan lebih dari 200-an tersebar di seantero Indonesia. Mereka adalah bisnis waralaba yang dirintis oleh Fatoni, dari Purwokerto, Jawa Tengah. Pria yang akrab disapa Toni ini memulai semuanya dengan modal Rp 3 juta saja, dan siapa nyana dalam tempo 2,5 tahun ia sukses meraih 205 mitra. Usaha yang berbendera CV Manggala Karya Abadi ini meraih profit dari royalty fee, serta penjualan bahan baku.

Ide membuat snack jamur kriuk datang dari istri, Lita Desita, yang mencoba meramu gorengan jamur. Ternyata rasanya renyah, kriuk, dan gurih. Terbersit untuk berjualan sendiri dengan gerobak. Naik turun penjualan tak membuat alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu gentar. Setelah dagangan snack ini cukup laris manis, ia mulai berpikir untuk mewaralabakannya. Dengan gigih ia mengetuk hati para investor. Berkat perjuangan yang cukup keras, dalam 2,5 tahun Toni berhasil mendapatkan 205 waralaba, di mana 28 adalah pemilik master franchise.

Wow, luar biasa bukan? Tak mudah menyerah, pada pertengahan 2011 silam ia membuka waralaba baru, Pasta Jakri, yakni pasta yang dikombinasikan dengan ragam jamur kriuk hasil kreativitasnya. Kendati belum berhasil membuka waralaba, Pasta Jakri sudah dapat mengeruk omzet Rp. 1,5 juta sehari. Toni mengaku terus memikirkan inovasi lain untuk usahanya yang berbasis bahan jamur merang ini.

Berminat menjadi waralaba Jamur Kriuk milik Toni? Untuk pemegang waralaba atau franchise bisa merogoh kocek Rp 6,8 juta untuk investasi. Sementara untuk master franchise harus menyiapkan modal setidaknya Rp 30 juta. Semuanya mendapatkan fasilias training pengolahan jamur kriuk, agar sesuai dengan standar. Training ini diadakan sampai si karyawan yang dikirim oleh mitra bisa membuat jamur kriuk sesuai harapan, yakni yang lezat, renyah, dan gurih.

Jika cukup aktif berpromosi, didukung lokasi penjualan yang strategis, 1 gerai gerobak Jamur Kriuk dapat mendulang omzet Rp 300.00-500.000 per hari. “Dengan bisnis franchise kami dapat membantu orang lain, membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi yang ingin usaha tapi belum memiliki ide bisnis,” ujar Toni dalam blognya yang memang dikhususkan untuk mempromosikan bisnisnya.

Agaknya harapan Toni membantu orang lain tidak berlebihan, sebab terbukti gerobak Jamur Kriuk-nya sudah tersebar di Jakarta, Depok, Yogya, Bandung, Semarang, Bogor, Serang, Banten, Tangerang, bahkan Pekanbaru.

Riyadh Ramadhan, Jutawan Muda Berkat Bisnis Gorengan

Kendati usianya masih muda, Riyadh Ramadhan sudah berani memulai usaha. Di usia 19 tahun, ia sudah memiliki bisnis gorengan di Surabaya dengan omzet ratusan juta per bulan. Bisnis ini dirintisnya tahun 2009, saat ia masih berusia 16 tahun.

Saat itu, ia baru duduk di kelas satu sekolah menengah atas (SMA). Lantaran usianya yang masih belia, ia pernah dinobatkan sebagai Entrepreneur Termuda 2010 versi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Riyadh memulai bisnis secara autodidak. Semua berawal dari kegemarannya memasak. Suatu ketika, naluri bisnisnya bangkit setelah melihat peluang usaha gorengan. “Saya melihat di Surabaya banyak penjual gorengan, lalu saya berpikir untuk membikin sendiri,” kata Riyadh.

Keinginan untuk berbisnis itu kemudian diutarakannya kepada kedua orangtuanya. Walau masih muda, orangtua Riyadh menyambut baik keinginan anaknya itu untuk berbisnis. Kebetulan, orangtua Riyadh memang memiliki jiwa bisnis.

Mereka berprofesi sebagai wiraswasta. Namun, usaha yang mereka kelola bukan bergerak di bidang makanan. “Mereka mengelola lembaga pendidikan,” ujar Riyadh.

Tekad Riyadh Ramadhan untuk memiliki bisnis di usia muda sangat kuat. Karena tekad yang kuat itu, ia pun tak risih meski harus harus memulai usaha dari menjajakan gorengan di sekolahnya.

Riyadh memang mengawali kesuksesan bisnisnya sebagai penjual gorengan. Pertama menjadi penjual gorengan, dia membidik teman-teman sekelasnya sebagai konsumen.

Setiap jam istirahat sekolah, Riyadh tidak sungkan mengeluarkan dagangan yang ia bawa setiap hari dari rumah. Sebagai remaja yang baru duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), sebenarnya dia agak canggung dan malu berjualan di sekolahnya.

Apalagi, Riyadh juga sering menjadi bahan olok-olokan dari teman-teman sekolahnya. “Beberapa nada sumbang berupa ejekan sempat terdengar dari teman,” kenangnya.

Bukannya berhenti, makin lama makin banyak teman yang mengejeknya sebagai penjual gorengan. Awalnya, ia sempat minder dan ingin mundur dari bisnisnya itu.

Namun, Riyadh tetap berpikir positif bahwa apa yang ia lakukan sudah tepat. Lagi pula, dia merasa tidak ada yang dirugikan dari bisnisnya itu.
Sementara bila mundur, keinginannya untuk memiliki usaha akan pupus. “Orangtua saya juga sering menguatkan mental saya untuk tidak mundur hanya karena mendapat ejekan dari teman,” ujarnya.
Orangtua saya juga sering menguatkan mental saya untuk tidak mundur hanya karena mendapat ejekan dari teman

Atas dorongan orang tuanya, Riyadh berusaha membuang jauh-jauh semua perasaan sakit hati yang ia alami di sekolah. Namun, seiring berjalannya waktu, justru banyak temannya yang mulai menyukai gorengannya. Bahkan,teman-teman yang tidak sekelas dengannya juga ikutan meminati gorengan buatan Riyadh.

Lantaran pesanan gorengannya makin banyak, ia selalu berusaha bangun tidur lebih awal untuk mempersiapakan dagangannya. Riyadh selalu bangun tidur jam tiga dinihari setiap hari. Di pagi buta itu, dia menyiapkan semua bahan yang diperlukan, termasuk meracik sendiri tepung gorengannya. “Saya menjalani semuanya dengan semangat,” katanya.

Selama setahun menjajakan gorengan di sekolah, ia pun mulai terpikir untuk mengembangkan usahanya. Hingga suatu saat Riyadh menemukan ide untuk membuka kafe di mal.

Lagi-lagi, orangtuanya mendukung penuh rencananya tersebut. Berbekal keuntungan usaha selama setahun serta sokongan dana dari orangtuanya, Riyadh pun mulai merintis pendirian kafe di salah satu mal di Surabaya.

Riyadh memberi nama kafe itu Go Crunz, yang sampai sekarang masih menjadi label usahanya. Di kafe itu ia menyediakan menu gorengan, seperti kentang, jamur, ayam, dan otak-otak ikan. Selain gorengan, ia juga menyediakan beragam pilihan minuman. Tak ingin mengecewakan orangtua yang sudah mendukungnya dan juga tanggung jawab terhadap diri sendiri karena uang tabungannya ludes untuk modal usaha, Riyadh pun total di bisnis ini.

Dengan label Go Crunz, ia menawarkan menu gorengan, seperti kentang, jamur, dan ayam, hingga otak-otak ikan. “Total ada sembilan menu gorengan,” katanya.

Gorengan itu dibanderol Rp 6.000-Rp 9.000 per kotak. Setiap kotak berisi empat sampai lima gorengan. Ternyata, banyak yang menyukai gorengan buatan Riyadh. Lalu dia membuka dua gerai lagi dengan konsep booth.

Dari ketiga gerai itu, total omzet yang didapatnya mencapai Rp 120 juta per bulan, dengan laba sekitar 40 persen dari omzet. Lantaran respon pasar positif, sejak tahun 2010, Riyadh resmi menawarkan kemitraan usaha. Saat ini, jumlah gerainya sudah 12 gerai.Perinciannya, tiga milik sendiri dan sisanya milik mitra. Mitra usahanya itu tersebar di beberapa kota, seperti Jakarta, Bekasi, Malang, hingga Balikpapan.

Dalam kemitraan ini, ia menawarkan dua paket investasi. Yakni, paket booth sebesar Rp 39 juta dan paket kafe Rp 110 juta. Berdasarkan pengalamannya, omzet paket booth ditargetkan Rp 500.000-Rp 700.000 per hari. Sementara paket kafe Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per hari.Dalam kemitraan ini, ia memasok bumbu dan kemasan kepada seluruh mitra bisnisnya.

Guna mengembangkan usahanya, ia kemudian menawarkan kemitraan pada Oktober 2010. Guna menjaring mitra, Riyadh rajin mengikuti pameran waralaba di daerahnya.Kerja kerasnya tidak sia-sia. Di bulan pertama menawarkan kemitraan, ia sukses menjaring tujuh mitra.

Sukses di usia muda mungkin menjadi impian banyak orang, begitupun Riyadh Ramadhan. Ia tak menyangka, bisnisnya akan tumbuh cepat. Toh begitu, tak mudah membangun bisnis di usia belia.

Riyadh mengaku banyak kendala yang ia hadapi. Misal, ia sempat kesulitan membuat sistem manajerial usaha yang baik. Alhasil, ia sering gonta-ganti karyawan lantaran kinerja pegawainya tak memuaskan. “Karena usia saya yang lebih muda, banyak karyawan yang tak menghormati saya sebagai pimpinan, sehingga kinerja mereka tak maksimal,” terangnya.

Tak kehabisan akal, Riyadh pun rajin melahap buku mengenai manajemen dan kepemimpinan. Ia pun kerap mengikuti ajang entrepreneurship bagi anak muda seusianya.

Meski tak menyabet predikat sebagai juara, Riyadh tak berkecil hati. “Tujuan utamanya bukan juara, tapi lebih pada pembelajaran karakter dan jiwa kepemimpinan dari para pengusaha muda,” ungkapnya.

Bukan sekadar memetik ilmu, dari ajang kompetisi itu Riyadh juga bisa membuka jaringan yang lebih luas. Dari situ, ia mulai belajar akan pentingnya manajerial usaha agar usaha makin berkembang. “Dalam usaha, pemasaran memang penting tapi belajar menjadi seorang pimpinan yang baik juga tak kalah penting,” katanya.

Dari kompetisi tersebut, Riyadh mengaku pikirannya kian terbuka. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia benahi, terutama manajemen usaha. Hal utama yang langsung Riyadh lakukan adalah mengubah gaya kepemimpinannya.

Riyadh bilang, ia sekarang lebih tegas namun bukan berarti berubah jadi pribadi yang galak dan ditakuti karyawannya. Selain itu, ia mencoba menerapkan metode kekeluargaan dalam manajemen Go Crunz.

Dengan perubahan gaya kepemimpinan itu, sekarang manajemen usahanya jauh lebih solid. “Dalam beberapa bulan terakhir, tidak ada lagi gonta-ganti karyawan,” jelasnya.

Bukan itu saja, menyadari bahwa ia adalah principal dari sebuah brand yang juga melibatkan orang lain, Riyadh menganggap semua mitra usahanya merupakan saudara dekatnya. Hal ini pula yang membuat dia cenderung lebih selektif memilih mitra usaha.

Salah satu patokannya memilih mitra adalah merasa klop saat pertama kali bertemu dengan calon mitra. “Jadi ada chemistry dalam berkomunikasi,” ungkap mahasiswa jurusan Desain Manajemen IBMT International University ini.

Insting itulah yang akhirnya membuat Riyadh memiliki sembilan mitra. Dia mengklaim semuanya loyal dan memenuhi ekspektasi membesarkan franchise Go Crunz.

Kendati bisnisnya makin mengembang, tak membuat Riyadh cepat puas. Ia mengatakan, masih harus terus belajar agar usaha kian membesar. Ia pun menyimpan mimpi bahwa merek Go Crunz dalam beberapa tahun ke depan bisa go international seperti Kebab Baba Rafi milik Hendy Setiono. Ia menyebut Hendy sebagai mentor andal dan telah menginspirasi dirinya.

Warles Sari Gunkid, Warung Lesehan Online Ala Buruh Migran Indonesia

Memulai sebuah bisnis tidak perlu harus bermodal banyak dan dilakukan saat memiliki banyak waktu. Di saat seseorang masih bekerja sebagai karyawan dan hanya memiliki modal dalam jumlah terbatas pun, sebuah bisnis sudah bisa dirintis. Asal ada tekad dan kemauan yang kuat untuk melakukannya. Inilah yang diperlihatkan oleh seorang buruh migran Indonesia di tanah asing.

Sebagai seorang lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sarjiyem yang kini bekerja di Victoria Hong Kong terpikir untuk bekerja di luar negeri sejak dulu. “Saya pikir kerja di luar gajinya lebih besar dibandingkan bekerja di dalam negeri,” ujar Sarjiyem yang lebih dikenal sebagai “Sari Gunkid” di jejaring sosial Facebook.

Ia memilih bekerja di luar negeri sebagai asisten rumah tangga karena ongkos pemberangkatannya lebih rendah dibandingkan biaya yang dibutuhkan untuk bekerja dalam sektor formal di sana.

“Di Hong Kong, pekerjaan formal diperuntukkan hanya bagi warga Hong Kong dan penduduk yang sudah memiliki identitas independen,” terangnya.

Selama menjadi asisten rumah tangga di negeri orang, Sarjiyem juga mengakui ada suka duka tersendiri. “Di sini enaknya bisa libur seminggu sekali dan ada juga labor holiday. Kami bebas berorganisasi,mengembangkan bakat, ketrampilan, pendidikan, dan sebagainya,” ia menjelaskan. Selain itu, gajinya lebih tinggi dibandingkan pekerja migran yang bekerja di Malaysia dan Singapura dan ia berkesempatan mempelajari cara hidup orang Hong Kong yang bersih, bisa antri dengan rapi, disiplin waktu, kerja keras, cepat. “ Selain bekerja juga bisa berwisata layaknya seorang turis,” imbuh wanita kelahiran Yogyakarta tersebut saat dihubungi CiputraEntrepreneurship.com.

Meski demikian, Sari mengakui ada beberapa hal yang kurang menyenangkan dalam kesehariannya sebagai pekerja asing di Hong Kong. “Potongan gaji di awal masa kerja lumayan besar,” keluhnya. Biasanya seorang buruh migran mengalami pemotongan gaji selama 5 hingga 7 bulan dengan nilai HK$3000 per bulan. “Padahal gaji untuk saat ini HK$3740,” ia menambahkan. Sebagai pekerja, ia juga kadang harus bekerja hampir 24 jam setiap hari.

Suatu saat ia mendapatkan  informasi adanya pelatihan ini lewat Facebook. “Saat itu sudah ada 1 kali pertemuan,” kenang wanita kelahiran 34 tahun lalu ini. “Saya termotivasi dari dalam diri sendiri untuk ikut, apalagi pelatihannya gratis,” imbuhnya.

Sebelum mengikuti pelatihan, Sari sempat berpikir jika ia tidak bisa melakukan kegiatan liburan lainnya nanti. “Tapi setelah 1 kali mengikuti pelatihan, akhirnya menjadi ketagihan untuk mengikuti pelatihan terus sampai sekarang,” ujarnya.

Ditanya mengenai hasrat untuk berwirausaha, Sari mengakui dirinya tergugah untuk belajar menjadi entrepreneur setelah mengikuti pelatihan “Mandiri Sahabatku” yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri bekerja sama dengan UCEC.

Di tengah proses belajar berwirausaha itulah, Sari ingin mempraktikkan apa yang ia pelajari selama di kelas. “Saya mempunyai ide bisnis ini sebenarnya karena tugas ritel online dari Distance Learning dengan Universitas Ciputra Surabaya yang saya ikuti,” paparnya.

Mulanya ia merasa bingung mengenai jenis bisnis ritel online yang bisa terasa manfaatnya dalam 3 minggu. Dulu ada salah satu temannya menawarkan pada Sariuntuk menjadi supplier pakaian anak-anak yang akan dijual di Indonesia, tapi ia menimbang, tawaran itu tidak akan terasa manfaatnya dalam 3 minggu. “Pasti prosesnya lebih lama,”  ia beralasan.

Ide pun datang saat ia bersantap di warung lesehan yang menunya halal. “Akhirnya saya telepon pemiliknya dan menyampaikan keinginan saya untuk menjual menu makanan dan minuman yang ada di warung tersebut,” Sari mengisahkan. Pemiliknya setuju, maka terciptalah bootstrap. Sari pun mendirikan warles (warung lesehan) online tanpa harus capek masak, mengurus segala hal dari belanja, produksi, dan sebagainya. Ia berujar tentang keunggulan bisnisnya, “Cukup mencari pelanggan dan proses pengambilan pesanan serta pengantaran pesanan.”

Sari menerapkan siasat jitu agar tetap bisa bekerja sambil berbisnis. “Warles online ini  pelayanannya hanya hari Minggu atau libur saja dan berdasarkan orderan, jadi tidak terlalu mengganggu pekerjaan sebagai domestic helper. Untuk pengaturannya pada hari Minggu/libur, saya tinggal mengambil orderan lalu mengantar orderan ke tempat pelanggan,” katanya mengungkap pembagian waktu bekerja sambil berbisnis.

Ia hanya menggunakan peralatan sederhana dalam berbisnis, hanya tas untuk mengambil dan mengantar pesanan bisa menggunakan tas yang tidak terpakai, termos, sendok, garpu. Mengenai modalnya, ia hanya untuk promosi dan produk tambahan saja. “Nominalnya tidak terlalu besar bahkan boleh dibilang sangat kecil,” terangnya.
Sari memanfaatkan Internet sebagai sarana untuk menjaring pelanggan. Ia menggunakan YouTube sebagai sarana berpromosi dengan mengunggah sejumlah video tentang bisnis onlinenya itu dan testimoni dari pelanggan-pelanggan makanan lesehannya yang lezat dan cocok di lidah serta dijamin halal. Warung Lesehan ( WarLes ) Sari Gunkid menjadi warles online yang menyediakan menu halal, bersih, fresh dan layanan delivery service yang cepat, demikian ia berpromosi di jejaring sosial. Untuk mendukung bisnisnya dan menerima pesanan, ia menggunakan formulir pemesanan online di blognya: http://www.warlessarigunkid.blogspot.com.
Kreativitasnya patut diacungi jempol. Dan keberaniannya untuk memulai menjadi pemicu untuk terus bergerak menuju arah yang lebih baik.

Untuk masa depan para pekerja migran secara umum, Sari mengharapkan adanya perlindungan terhadap BMI, pembebasan/pengurangan biaya penempatan di luar negeri, penghapusan KTKLN yang sebenarnya hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang secara tidak langsung memeras BMI. Panduan/perhatian dari pemerintah setelah menjadi BMI purna untuk berwirausaha di Indonesia.

Cetak Omzet Puluhan Juta dari Mi Ayam

Bisnis makanan memang tak pernah surut. Salah satunya ialah bisnis mi ayam. Meski banyak pemain, toh bisnis ini tetap menjanjikan. Hal tersebut membuat Teguh Mardianto mantap mengeluti usaha yang telah dirintis oleh ibunya sejak tahun 1993 di daerah Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Untuk memajukan bisnis mi ayamnya, Teguh menelurkan banyak ide dan inovasi. Hasilnya, usaha yang dikelolanya sangat maju dengan banyaknya pelanggan yang menggemari mi ayam racikannya.

“Dulu awalnya usaha mi ayam saja, tapi kami terus melakukan inovasi dan memberikan menu tambahan baru seperti milk shake and juice,” ujar Teguh saat dihubungi Ciputraentrepreneuship.com.

Strategi pemasaran yang diterapkan Teguh sangat efektif. Teguh melakukan promosi baik secara langsung maupun visual dengan menekankan nama “Mi Galak.” “Mi Galak artinya adalah Mi Ga Akan Lama Lagi Kaya,” papar Teguh.

Dengan strategi tersebut, Teguh mampu menjangkau semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. “Dari kalangan anak muda, baik SMP, SMA, maupun mahasiswa. Banyak juga dari kalangan orang tua,” katanya.

Omzet yang diraih Teguh sangat besar. Menurutnya, per bulannya bisa mencapai Rp20 juta.

Hendra Arifin, Sosok di Balik Kesuksesan Hoka-Hoka Bento

Keputusannya untuk meninggalkan kenyamanan setelah 13 tahun bekerja di PT Astra Internasional ditentang oleh banyak keluarga dekatnya. Termasuk rekan-rekannya di Astra juga ikut menyayangkan keputusannya tersebut. Namun ia bergeming.

Ia berani memutuskan untuk memulai merintis bisnis kuliner di tahun 1985. Dan sekarang setelah melewati perjalanan panjang, Hendra Arifin berhasil mengepakan sayap dengan merek dagang Hoka-Hoka Bento. Ya, kini pria sekaligus Direktur Utama PT Eka Bogainti itu memiliki 148 gerai Japanese fast food restaurant, Hoka Hoka Bento.

Awalnya, Hoka Hoka Bento merupakan bisnis makanan dengan konsep take away yang kemudian diubah menjadi cepat saji (fast food), model bisnis yang mengadopsi tren cara menikmati makanan dengan lebih praktis dan higienis ala Jepang.

Dari sebuah gerai mungil di Wilayah Kebon Kacang Raya, Jakarta, Hendra mulai membangun bisnis resto Hoka Hoka Bento. Untuk mengembangkan bisnis yang digelutinya, dia pun menyambangi negeri Sakura untuk mempelajari dan membeli izin penggunaan merek dan technical assistance Hoka Hoka Bento di Indonesia.

Alur perjalanan hidup pria berdarah Betawi ini, memang seperti air yang mengalir. “Semua tidak ada yang kebetulan, semua karena rancangan Tuhan,” ungkapnya. Hendra akrab disapa memandang bila riak adalah romantisme dan dinamika hidup. “Yang harus dilakukan adalah menghadapinya dengan keikhlasan, kejujuran dan mau memberi maaf,” tuturnya memaknai sukses yang telah diraih.

Sikap ikhlas dan fokus dalam bekerja guna mewujudkan tujuan hidup memang telah dilakukannya. Dalam menjalankan bisnis, kata Hendra, persoalan dan kendala adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. “Kita harus ikhlas dan berusaha untuk bangkit kembali,” ujarnya memberi kiat menjalani sebuah proses yang telah direncanakan oleh Tuhan.

Dia menilai bahwa sebuah kegagalan merupakan pelajaran yang berharga. “Kita petik pelajaran dari kegagalan, lalu kembali bangkit untuk tidak mengulang kesalahan yang sama,” ujarnya. Sikap ini akan memperkuat diri kita untuk melangkah ke level yang lebih tinggi dengan tetap fokus bekerja dengan sikap tulus dalam menjalaninya.

Menurut dia, sikap fokus pada bidang pekerjaan yang digeluti menjadi salah satu kunci keberhasilan yang maksimal. Ia mencontohkan, banyak orang di tengah bisnis yang dilakukannya kemudian justru menggeluti bidang usaha yang lain, “Langkah ini jelas akan memecah fokus pada pekerjaan dan menimbulkan banyak persoalan,” katanya.

Selain keikhlasan dan fokus bekerja, nilai hidup yang patut dimiliki seorang entrepreneur adalah kejujuran. Hendra menjelaskan bahwa kejujuran menjadi modal yang penting dalam menjalani hidup termasuk dalam membangun bisnisnya. “Sikap shiddiq (tepercaya) sangat penting. Tanpa sikap shiddiq, lalu bagaimana kita memperoleh amanah?,” ujarnya.

Begitu pun dengan sikap pemaaf, Hendra menilai tak sedikit orang yang sulit memaafkan sebuah kesalahan meskipun telah berlalu. “Butuh sebuah keberanian dan kebesaran hati untuk meminta dan menerima maaf,” ujarnya.

Dia menilai dengan memiliki sikap pemaaf, kita akan lebih bersih dan jernih dalam berpikir. “Pikiran negatif hanya akan mengusik konsentrasi kita untuk bergerak maju. Ini jelas sangat tidak menguntungkan,” ujarnya. Karena itu cobalah untuk melupakan dan tetap melangkah ke depan. “Seperti ungkapan merunduk tapi tidak patah,” ujarnya berprinsip.

Bisnis Opak Achyar-Paliha Omzetnya Rp 760 Ribu Sehari

Tanpa memedulikan terik matahari, Paliha Humairo membalikkan opak yang dijemur di depan rumahnya. Ada ratusan opak, yang dijemur dengan diwadahi beberapa tempat yang terbuat dari anyaman bambu. Setelah kering, opak-opak itu digoreng menggunakan pasir untuk kemudian dijual.

Paliha sudah membuat opak bersama suaminya, Achyar Suhada sejak 10 tahun lalu. Sebelumnya, orangtua dari delapan anak itu berdagang telur ayam. Namun, keduanya kurang berhasil memasarkan barang dagangan mereka.

Setelah itu mereka banting setir berjualan opak, ternyata hasilnya begitu menggiurkan. Apalagi keduanya tidak perlu memasarkan produk, karena konsumen langsung datang ke rumahnya di RT 05/03, Kampung Sukamanah, Desa Bojongkunci, Kecamatan Pamengpeuk, Kabupaten Bandung.

Achyar mengatakan, setiap hari rata-rata memproduksi 28 kg opak yang sudah jadi. Dari jumlah tersebut, setiap harinya laku antara 20-25 kg. Harga per kilogram opak sebesar Rp 38 ribu. Dengan demikian pasangan Achyar-Paliha bisa mengantungi omzet sekitar Rp 760 ribu sehari.

“Alhamdulillah, yang datang ke rumah untuk membeli opak banyak. Dalam satu hari, rata-rata bisa habis bahan baku beras ketan sampai 25 kilogram.Yang beli bisa dari Ciwidey, Cililin, atau daerah sekitarnya,” kata pria berusia 52 tahun ini ketika ditemui di rumahnya.

Opak tersebut terbuat dari beras ketan, gula pasir, garam, dan parut kelapa. Pembuatannya harus melalui proses penumbukan, perendaman, untuk kemudian dikeringkan. Setelah kering, opak-opak itu digoreng menggunakan pasir. Opak yang sudah jadi bisa bertahan enam bulan.

“Kalau digoreng pakai minyak, hanya bisa bertahan maksimal selama sepekan. Kalau pakai pasir bisa sampai enam bulan. Selain itu, penggorengan tanpa minyak itu tidak mengandung kolesterol. Saya juga terima pesanan,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai guru agama di  taman pendidikan Alquran di Kampung Sukamanah ini.

Pada musim kemarau seperti sekarang, Achyar bisa memproduksi berapapun opak sesuai pesanan. Penjualan meningkat biasanya terjadi pada bulan Puasa, yang bisa mencapai lima kali lipat dibandingkan hari biasa. Harganya pun lebih mahal Rp 9.000 dibandingkan hari biasa.

“Puasa kemarin, harga per kilo saya jual Rp 44 ribu. Permintaan meningkat, dan bisa dilihat dari angka penjualan yang mencapai lima kali lipat per hari. Kalau musim kering ini bagus, karena opak bisa kering alami. Tapi kalau musim hujan, biasanya kami panaskan pakai api,” ujarnya.

Menurutnya, kendala yang ditemui pembuat opak adalah harga bahan baku yang terus naik. Seperti harga gula pasir, yang saat ini sudah mencapai Rp 14 ribu per kg. Sementara pada saat musim hujan, biasanya Achyar tidak bisa menambah jumlah produksi sesuai pesanan.